 | |  | | | | by hernikwidowati on
 | Teman merajut, Tahukah teman siapa The world's Fastest Knitter ? Di International speed knitting competition yang diadakan di Mall of America di Minneapolis Hazel Tindall bertarung melawan knitter dari Netherland, USA, Canada and France. Masing masing knitter harus membuat sebanyak banyaknya tusukan (stitches) dalam 3 menit untuk 3 kali kontes. Masing masing peserta diberikan benang yang sama namun boleh menggunakan jarum sendiri (5mm). Hazel berhasil membuat 241, 247 dan 262 tusukan, dan meraih gelar yang juga diraihnya tahun 2004 sebagai the world's fastest knitter. Sebagai juara kedua adalah Miriam Tegels dari Netherland. Hazel mengatakan bahwa cara terbaik untuk belajar knitting adalah dengan bertemu dengan knitter yang lebih berpengalaman. Hazel berasal dari Shetland sebuah pulau kecil di UK. (taken from Simply Knitting April 2008 edition) | | | | |  | |  |   | |  | | |   | | Matematika Penyesuaian Pola Rajutan I : Gimana Kalau Benangnya Beda? | | | by dydy on
 | Aduuuh, merajut aja kok pake matematika sih? Yah nggak apa-apa lah, sambil mengerjakan hobi, menghasilkan karya, juga mengasah otak, apa nggak berlipat-lipat untungnya tuh?
Salah satu masalah yang sering ditemui saat ingin mengerjakan suatu pola rajutan (terutama pola pakaian) ialah : bagaimana menyesuaikan ukuran dalam pola kalau benangnya beda?
Kuncinya : ukuran gauge/tensi.
Apa itu gauge/tensi? (mengutip buku "Merajut Yuk!")
Tensi (tension/gauge), adalah istilah untuk menyatakan kerapatan benang (dalam rajutan -red). Yang diukur adalah jumlah tusukan (horizontal) dan baris (vertikal) per inci atau cm persegi. Biasanya area standar untuk menentukan tensi yang akurat adalah 4 x 4 inci atau 10 x 10 cm. Ukuran tensi tergantung benang yang digunakan, ukuran jarum, dan cara merajut masing-masing.
Benang dengan ketebalan atau struktur berbeda akan menghasilkan tensi yang berbeda. Penggunaan jenis jarum yang berbeda (selain tentu saja ukuran yang berbeda), misalnya jarum rajut aluminium dan bambu, dapat juga memberikan hasil tensi yang tidak persis sama.
Cara merajut setiap orang memiliki ciri tersendiri, misalnya dalam hal seberapa kencang ia mengambil benang dengan jarumnya. Hal ini yang memunculkan perbedaan pada tensi hasil rajutannya. Karenanya kadang-kadang meskipun dua orang merajut menggunakan benang dan jarum yang sama, tetapi bisa menghasilkan rajutan dengan ukuran yang berbeda.
Mari kita ambil contoh informasi ukuran dalam pola Mrs.Darcy Cardigan ini. Measurements- Circumference (lingkar dada): 34″ (dalam inci ...kira-kira = 86 cm) Length from shoulder to hem (panjang badan cardigan): roughly 20 1/2″ Sleeve length (panjang lengan): 21″ Sleeve circumference at cuff (lingkar pergelangan): 10″; at beg of armhole shaping (lingkar lubang lengan): 11″ Gauge- 16 sts/20 rows = 4 inches in Stockinette stitch on US 9 needles (or size needed to fit gauge)
Pattern Notes- Twisted Rib: Row 1- (right side) *k1tbl, p1* to end of row Row 2- (wrong side) *k1, p1* to end of row
Lalu bagaimana memanfaatkan informasi tensi ini untuk menyesuaikan ukuran pola? Yang pertama harus dilakukan adalah, buat sampel dulu dengan menggunakan benang kita dan jarum kita, karena meskipun memakai benang yang sama dan jarum berukuran sama, karena tarikan yang tidak sama bisa menghasilkan ukuran rajutan yang tidak sama. Setelah itu ukur tensinya : ada berapa tusukan (stitches) dan berapa baris (rows) dalam sampel berukuran 4x4 inches? Katakanlah sampel kita tensinya 18 tusukan/26 baris = 4x4 inch (10x10 cm). Setelah ini selesai, kita masuk ke bagian hitung-hitungan matematikanya *oh no!*. Sebetulnya ada 2 cara menyesuaikan ukuran pola dengan ukuran kita. Pertama, kita harus membuat skema pola untuk mengetahui ukuran-ukuran yang dipakai dalam pola : berapa lebar bagian bawah depan, belakang, dll, dsb. Panjang lah pokonya. Jadi kita pakai cara kedua aja ya yang lebih mudah.
Caranya dengan menggunakan rasio tusukan dan baris. Apaan tuh? Rasio tusukan : Tensi tusukan sampel kita dibagi tensi tusukan dalam pola Rasio baris : Tensi baris sampel kita dibagi tensi baris dalam pola.
Masih bingung? Oke, kita runut lagi dari awal (pake sistematikanya guru Fisika saya jaman smp)
Diketahui : - Tensi pola : 16 tusukan dan 20 baris (per 4 inci) - Tensi sampel : 18 tusukan dan 26 baris (per 4 inci) Ditanyakan : Rasio tusukan dan baris Jawab : - Rasio tusukan = 18/16 = 1,125 - Rasio baris = 26/20 = 1,3
Oke, sekarang rasionya sudah diketahui. Lalu? Lihat polanya lagi yuk!
Back- CO 68 st. K 3 rows. Wrk 13 rows in St st. Wrk 17 rows in Twisted Rib. Wrk even in St st for 45 rows. Armhole shaping: BO 4 sts at beg of each of the next 2 rows. K2tog at the beg of next 2 rows. K2tog at the beg of every other row for the next 4 rows. Wrk even in St st for 23 rows. K one row. BO all sts.
Dalam pola disebutkan harus cast on (membuat tusukan permulaan) 68 tusukan. Dengan rasio tensi tusukan yang sudah diketahui, kita bisa hitung kalau ternyata dengan benang punya kita dibutuhkan 68x1,125 tusukan = 76,5 tusukan (dibulatkan 76 atau 77 deh). 76 aja ding, kan pake pola tusukan Twisted Rib yang kelipatan 2. Terus katanya K 3 rows. Dengan benang kita, berapa baris tuh? 3x1,3=3,9 dibulatkan jadi 4 gitu. Dan seterusnya seterusnya, bisa hitung sendiri ya?
Segitu dulu deh, kalau ada pertanyaan, silakan komentar. Nanti (diusahakan) dijawab..:D.
Bersambung ke seri Matematika Penyesuaian Pola Rajutan seterusnya (yang belum tentu tanggal terbitnya..tunggu aja deh) | | | | |  | |  |   | |  | | | | by dydy on
 | Ada berbagai jenis jarum rajut yang beredar di pasaran, dibedakan oleh ukurannya, bentuknya, dan juga bahannya. Dari segi ukurannya atau diameternya, jarum rajut tersedia dari mulai ukuran 2 mm hingga sekitar 2 cm. Diameter jarum ini menentukan kerapatan rajutan nantinya. Semakin kecil diameter jarum, semakir rapat rajutannya. Dan sebaliknya.
Dari segi bentuknya, jarum rajut ada yang lurus panjang berujung satu, lurus pendek berujung dua, dan melingkar. Ada juga yang semi melingkar, namanya jarum flex. Secara fungsi ia sama dengan jarum lurus. Ada juga produsen jarum rajut seperti Boye atau Denise yang menyediakan satu set interchangeable needles, terdiri dari kepala jarum dan kabel-kabel penghubung yang berbeda-beda panjangnya.
Dari segi bahan, ada jarum rajut yang terbuat dari metal (aluminium), bambu, kayu, plastik, bahkan juga gelas. Jarum metal dan plastik biasanya yang paling murah dan mudah ditemukan.
Jarum metal, licin dan relatif berat di tangan. Tangan jadi mudah capek, dan jari lebih mudah kapalan . Tapi keuntungannya, ia tahan lama, tidak mudah rusak. Jarum bambu, seret dan ringan. Tidak mudah capek merajut dengan jarum bambu, dan enak dipakai merajut benang-benang licin semacam rayon atau sutra. Tapi jarum bambu tentu saja mudah patah kalau kita tidak hati-hati. Jarum plastik, murah, ringan, tidak begitu licin, tapi juga tidak seret. Kekurangannya, mudah melengkung terutama yang diameternya kecil. Jarum kayu dan gelas, biasanya merupakan fancy needles, mahal dan dibeli untuk koleksi.
Begitu banyak jenis jarum rajut, bagaimana memilihnya? Sesuaikan dengan kebutuhan. Apa yang akan Anda rajut? Seberapa besar ukurannya? Kerapatannya? Ingin yang tahan lama atau yang ringan di tangan? Jika sudah tahu kebutuhan Anda, tidak sulit menentukan jarum yang diinginkan.
| | | | |  | |  |   | |  | | |   | | Pengalaman : Belajar Merajut dan Merenda di Meguro-ku Kuyakusho, Tokyo | | | by Lenny on
 | Tidak terasa hampir 2 tahun tinggal di negeri sakura, banyak kegiatan yang diadakan oleh Kuyakusho (kecamatan). Meguro-ku Kuyakusho, Tokyo, tanggal 16 Februari 2007 lalu mengadakan kelas merajut merenda untuk warga terutama untuk pendatang seperti saya. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Meguro International Friendship Association (MIFA).
Ada beberapa sensei, mulai dari belajar merajut (knitting), merenda (crochet) termasuk tunisian crochet (afugan). Hasilnya berupa tawashi (lap dapur), syal, topi berbagai model.
Dua macam tusukan yang saya pelajari, tusukan dalam merajut (saya namakan tusukan sela), dan tusukan tunisian (tunisian crochet, afugan dalam bahasa jepangnya).
Seperti apa sih tusukan sela*?
Tusukan ini saya pelajari dari Tsurumi-sensei, dalam kelas ini kita dipungut 400yen, benang bebas pilih warna dan tekstur, alat boleh pinjam bebas ukuran disesuaikan dengan benang yang akan dipakai.
Bagaimana cara membuat tusukan sela ini?
1. Buwat simpul awal sebanyak 40 tusukan, balik. 2. Lapis 1-10 : knit, balik. 3. Tusukan sela.. Lapis 11 : knit 1, gulung di jarum 3 kali, knit 1, gulung di jarum 3 kali, terus ulangi sampe ujung, balik. Lapis 12 : purl 1, tarik bagian yang menggulung, purl 1, tarik bagian yang menggulung, ulangi sampe ujung, balik. Lapis 13 : purl, balik. Lapis 14 : knit, balik. Hitung lagi harus 40 tusukan. (sering lakukan proses perhitungan agar tusukan sela sejajar satu dengan lainnya) 4. Untuk membuat tusukan sela lagi, ulangi langkah 3.
Apa sih Tunisian Crochet ? di Jepang, disebut juga Afugan. Tusukan ini unik karena menggunakan satu jarum renda (crochet) yang ukuran panjangnya 20 cm, kedua ujungnya lengkung (kait).
Cara tusukan dasar Tunisian crochet ato afugan ini bisa diliat di Hajimete no afugannami
Jarum serta benang ini presento (hadiah) dari sensei di Meguro-ku Kuyakusho..alhamdulillah, dapet ilmu, bisa langsung praktek lengkap dengan alat dan bahannya..
Sensei, hontou ni arigatou gozaimashita.. otsukaresamadeshita.. :D Kita tunggu lagi kelas ngerajut musim dingin tahun depan.. :D
Selamat mencoba ya.. :D
* tusukan sela ini dalam istilah merajut bahasa Inggris disebut drop stitch
| | | | |  | |  |    | |  | | |   | | Memahami Pola Tulisan (Merenda/Crochet/Hakken) | | | by dydy on
 | Di Indonesia rata-rata orang belajar merajut (dalam hal ini lebih sering diartikan merenda/hakken) dengan menggunakan pola gambar ala Jepang. Hal ini dikarenakan buku pola dari Jepang lebih banyak beredar di Indonesia dibandingkan buku-buku pola dari Amerika atau Eropa yang biasanya menggunakan pola tulisan.
Karenanya begitu bertemu dengan pola-pola tulisan, biasanya mereka tidak mengerti karena sudah terlalu terbiasa dengan pola gambar yang mudah dibayangkan. "Lebih gampang diikuti", katanya. Benarkah? Kalau soal lebih gampang diikuti, sepertinya sama saja karena pola tulisan memaparkan langkah merajut satu persatu, jadi mudah juga untuk diikuti. Masalahnya adalah pola tulisan lebih sulit dibayangkan karena bukan berupa gambar.
Dengan banyaknya pola gratis di internet yang berupa pola tulisan (karena asalnya dari Amerika dan Eropa), alangkah sayangnya jika kita tidak belajar memahami pola tulisan ini. Jika sudah dikuasai, kita tidak lagi membatasi diri hanya mengikuti pola-pola dari Jepang.
Di bawah ini adalah daftar beberapa istilah merenda yang sering digunakan dalam pola tulisan, dan simbol yang dipakai dalam pola gambar (diambil dari buku SnB Crochet : Happy Hooker --Debbie Stoller--) :
Simbol sc (single crochet) di buku ini menggunakan tanda X, di pola lain sering juga menggunakan tanda +.
Ada juga beberapa simbol yang sering digunakan dalam pola tulisan :
[] atau () : instruksi yang berada di antara kedua tanda kurung ini harus diulangi sesuai pola. Misalnya [dc, sk 2 ch, sc] across artinya [double crochet, lewati 2 rantai, single crochet], ulangi hingga baris selesai. Ada juga pola yang menggunakan kedua macam tanda kurung ini kalau memang diperlukan. Misalnya [2 dc in next st, (dc, sk 2 ch, sc) four times] across artinya [2 double crochet di tusukan berikutnya, (double crochet, lewati 2 rantai, single crochet) ulangi 4 kali] ulangi semuanya hingga baris selesai.
* : tanda ini seringkali digunakan dengan fungsi yang sama seperti tanda kurung. Letaknya di depan serangkaian instruksi tusukan yang harus diulangi. Misalnya *dc, sk 2 ch, sc, repeat from * four times artinya sama saja dengan (dc, sk 2 ch, sc) four times. Atau bisa juga bentuknya seperti ini : *dc, sk 2 ch, sc *, repeat from * to * four times. Artinya tetap sama.
Coba kita pelajari pola tempat tisu ini. Penjelasan pola singkatan-singkatannya dalam huruf miring :
Foundation chain: Chain 39. Turn. Row 1: 1 sc in 11th chain from hook, ch 3, skip 3 ch, 1 dc in next ch, (ch 3, skip 3 ch, 1 sc in next ch, ch 3, skip 3 ch, 1 dc in next ch) 3 times. Turn. Penjelasan : buat 1 single crochet pada rantai ke 11 dari jarum, buat 3 rantai, lewati 3 rantai, buat 1 double crochet pada rantai sesudahnya, (buat 3 rantai, lewati 3 rantai, buat 1 single crochet pada rantai sesudahnya, buat 3 rantai, lewati 3 rantai, buat 1 double crochet pada rantai sesudahnya) ulangi 3 kali. Balikkan. Row 2: ch 4, skip first dc, (skip 1 ch, 1 sc in next ch, ch 3, skip [1 ch, 1 sc, 1 ch], 1 sc in next ch, ch 1, skip 1 ch, 1 dc in dc, ch 1) 3 times, skip 1 ch, 1 sc in next ch, ch 3, skip [1 ch, 1 sc, 1 ch], 1 sc in next ch, ch 1, skip 1 ch, 1 dc in next ch. Turn. Penjelasan : buat 4 rantai, lewati dc pertama, (lewati 1 rantai, buat 1 sc pada rantai berikutnya, lewati [1 rantai, 1 sc, 1 rantai], buat 1 sc pada rantai berikutnya, buat 1 rantai, lewati 1 rantai, buat 1 dc pada dc, buat 1 rantai) ulangi 3 kali, lewati 1 rantai, buat 1 sc pada rantai berikutnya, lewati [1 rantai, 1 sc, 1 rantai], buat 1 sc pada rantai berikutnya, buat 1 rantai, lewati 1 rantai, buat 1 dc pada rantai berikutnya. Balikkan. Row 3: ch 3, skip first dc, (skip [1 ch, 1 sc], 7 dc in ch 3 space, skip [1 sc, 1 ch], 1 dc in dc) 3 times, skip [1 ch, 1 sc], 7 dc in ch 3 space, skip [1 sc, 1 ch], 1 dc in next ch. Turn. Penjelasan : buat 3 rantai, lewati dc pertama, (lewati [1 rantai, 1 sc], buat 7 dc pada lubang di bawah 3 rantai berikut, lewati [1 sc, 1 rantai], buat 1 dc pada dc) ulangi 3 kali, lewati [1 rantai, 1 sc], buat 7 dc pada lubang di bawah 3 rantai berikut, lewati [1 sc, 1 rantai], buat 1 dc pada rantai berikutnya. Balikkan. Row 4: ch 6, skip first 4 dc, 1 sc in next dc (the fourth dc of 7 dc group), ch 3, skip 3 dc, 1 dc in next dc, (ch 3, skip 3 dc, 1 sc in next dc, ch 3, skip 3 dc, 1 dc in next dc) two times, ch 3, skip 3 dc, 1 sc in next dc, ch 3, skip 3 dc, 1 dc in next ch. Turn. Penjelasan : buat 6 rantai, lewati 4 dc pertama, buat 1 sc pada dc berikutnya yaitu dc keempat dalam grup 7 dc di baris 3 tadi, buat 3 rantai, lewati 3 dc, buat 1 dc pada dc berikutnya, (buat 3 rantai, lewati 3 dc, buat 1 sc pada dc berikutnya, buat 3 rantai, lewati 3 dc, buat 1 dc pada dc berikutnya) ulangi 2 kali, buat 3 rantai, lewati 3 dc, buat 1 sc pada dc berikutnya, buat 3 rantai, lewati 3 dc, buat 1 dc pada rantai berikutnya. Balikkan. Rows 5-25: Repeat rows 2-4 seven times. Row 26: Repeat row 2. Row 27: Repeat row 3. Fasten off.
Bagaimana? Tidak begitu susah bukan? Yang penting jangan menyerah dulu menghadapi pola tulisan. Jangan sampai beralasan "Ah, saya sudah terlalu biasa pakai pola gambar. Nggak bisa deh baca pola tulisan!". Sayang...ada ribuan pola cantik yang ditulis dalam pola tulisan.
Yuk, belajar sama-sama!
| | | | |  | |  |   | |  | | | | by Thata on
 | Kalau dilihat-lihat rasanya merajut di Indonesia itu berkutat dengan tusukan yang sama dari jaman aku masih remaja (mulai belajar merajut) sampai sekarang ini, sehingga akhirnya menjadi sesuatu yang membosankan karena motifnya itu-itu saja-. Kesannya kayak model kuno kali yah-. Mengenai kenapa bisa begini mungkin harus diberi artikel tersendiri atau teman-teman punya masukan?? Kali ini artikelku khusus tentang motif-motif dalam merajut saja dulu..
Sebenarnya perkembangan merajut itu sekarang ini sudah sangat berbeda jauh dengan jaman nenek-nenek kita dulu. Merajut sekarang ini FASHIONABLE (ada artikelnya juga tentang ini) dan bisa dipakai untuk usia berapa saja (bukan cuma nenek2 lho)-.. Kenapa?? Salah satu penyebabnya, sekarang ini banyak penulis-penulis pola merajut yang muda-muda dan dinamis. Juga variasi benang yang lebih banyak dibandingkan jaman dahulu. Coba saja tengok di website ini- masuklah di halaman Galery- apakah ada kesan kuno didalamnya?
Kalau dulu merajut hanya berkutat dengan tusuk rantai, tusuk tunggal dan tusuk ganda saja dengan bentuk hanya seperti kerang2an atau kotak-kotak di hakken atau kalau di rajutan kenalnya cuma 2 jenis tusukan yaitu knit, dan purl saja sekarang sudah berbeda keadaannya. Contoh-contoh variasi tusukan dapat kita lihat pada gambar di bawah ini : Hakken/Crochet :
 
Tunisian stitch, Bullion stitch
  Basket weave stitch, Tapestry crochet    Cable stitch in crochet, Delta mesh, Popcorn stich
Breien/Knit :    Cable stitch, Leaf stitch, Drop stitch,
 
Lace rib, Tusuk rumput
Bagaimana?? Bukankah sekarang ini merajut itu menjadi sesuatu yang menarik untuk dicoba?? Tak kenal maka tak sayang- Jadi mulailah kembali mencobanya untuk yang sudah bisa tetapi sekarang bosen atau tidak tertarik lagi. Kalau yang belum pernah-. Cobalah maka anda akan jatuh cinta-
Selamat merajut !! | | | | |  | |  |   | |  | | | | by dydy on
 | Suatu hari saya mengobrol dengan seorang teman mengenai peluang hasil rajutan di dunia mode Indonesia. Dari hasil pembicaraan, saya menangkap bahwa rajutan (hasil merajut dan merenda) begitu belum populernya di dunia mode Indonesia sehingga pertanyaan-pertanyaan saya seringkali disalahtanggapi. Ketika saya bertanya tentang "baju rajutan", yang ada di pikiran teman saya adalah kain stretch hasil rajut mesin. Ketika saya bertanya tentang peluang berkembang di Indonesia, katanya "Ah rajutan kan panas, bikin gerah, nggak cocok di sini".
Mungkin selama ini persepsi tentang baju rajutan memang seperti itu : rajutan = sweater = wol = panas = tidak cocok di daerah tropis. Padahal kalau saja orang tahu bahwa rajutan itu banyak macam modelnya, bahannya, pendapatnya bisa berubah 180 derajat.
Pertama, rajutan tidak identik dengan wol. Di negara-negara 4 musim, untuk musim panas lebih banyak digunakan benang katun atau rayon sebagai bahan rajutan, karena sifatnya yang mudah menyerap panas sehingga nyaman dipakai saat suhu tinggi.
Kedua, rajutan tidak identik dengan sweater. Pada musim panas seringkali mode yang 'ngetrend' adalah pakaian-pakaian yang bermotif lubang-lubang (mesh, lace, dan openwork) yang memudahkan kulit 'bernapas' dengan leluasa. Model pakaiannya pun macam-macam, mulai dari tank top, berbagai model blus berlengan pendek dan panjang, tunik, hingga rok dan gaun.
Beberapa tahun terakhir ini mode rajutan kembali 'ngetrend' di catwalk peragaan busana internasional. Vintage and romantic style ditampilkan oleh beberapa rumah mode dengan bahan dan teknik rajut dan renda. Berbagai koleksi rumah mode menggunakan rajutan sebagai aksen atau diterapkan secara keseluruhan untuk pakaian dan aksesorisnya. Beberapa contohnya dapat dilihat di bawah ini.
  
  
Jadi siapa bilang rajutan = panas?
| | | | |  | |  |   | |  | | |   | | Pengalaman Merajut : Merajut dengan Tusuk Sate | | | by Hernik D. Widowati on
 | Belajar sesuatu memang paling enak mulai dari yang paling gampang dulu. Belajar knitting pun aku mulai dari yang paling sederhana, membuat shawl dengan pattern yang Cuma 2knit 2purl. Project kedua buat sweater anakku yang berumur 2 tahun. Pattern masih knit dan purl, ditambah increasing dan decreasing juga sambung dengan benang warna lain. Gak puas hanya knit dan purl, pengen naik kelas dong- Project yang ketiga ini buat ponco yang ada pola kabelnya, karena udah pengen banget bisa buatnya jadi nekat belajar pake buku yang ada gambarnya. Tapi-.untuk pattern kabel perlu jarum khusus lagi nih, sementara belum punya jarum kabelnya. Tapi juga aku lihat jarum kabel itu fungsinya Cuma untuk 'memegang sementara'. Jadi sementara kita selesaikan barisan yang kiri dulu jarum ini 'memegang atau menjaga' barisan yang lain biar tidak terurai. Aduh-gimana ya menjelaskannya. The point is jarum ini fungsinya untuk menjaga agar rajutan yang belum selesai di satu row tidak terurai (cmiiw). Nah kalau fungsinya untuk itu berarti bisa dipakai benda lain yang berdiameter sama. Awalnya aku pake jarum knitting yang dari bamboo tapi alamak-panjang amat ! jadi malah nganggu, pake yang sircular needle juga kok ribet juga. Terus kupikir eh-pakai tusuk sate aja, diameter hamper sama (3.5) dan tidak terlalu panjang. Nah-akhirnya bisa juga. Tapi kalau pakai tusuk sate memang harus hati hati, karena ujungnya tajam dan gak sehalus jarum knitting kita. Kadang kadang si tusuk sate ini malah menguraikan benangnya. Gitu deh, mudah mudahan tips ini bisa dipakai untuk yang belum punya cable needle. Seperti kata pepatah tak ada rotan akarpun jadi, tak ada jarum tusuk satepun jadi he..he..he.. Pola diambil dari : Let's knit series (gak tahu apa bacanya - tulisan jepang) Benang : DMC Senso Quick finish 100% cotton Needle : 3.5 circular needle dan tusuk sate | | | | |  | |  |   | |  | | | | by Mamacat on
 | Mengapa harus wetblock? 1. Sewaktu kita mengerjakan doilies tentunya tension antar stitches tidaklah sama 100%, maka digunakanlah teknik ini untuk meratakan tension dan menghasilkan doilies yang mulus dan rata. 2. Rajutan yang diselesaikan dengan teknik ini terlihat berkualitas handmade daripada homemade, yang artinya lebih terlihat professional. Metodanya: 1. Lihat label benangnya, umumnya benang katun bisa direndam sebentar dalam air, yang penting semua bagian doiliesnya harus basah. Benang katun mempunyai daya serap tinggi sehingga hasil blocking biasanya paling bagus dibanding material lainnya. 2. Setelah basah, peras doiliesnya pelan-pelan supaya tidak merubah bentuk doilies. 3. Lebih bagus jika doilies tsb diperas dengan cara menggulungnya dalam handuk kering. 4. Siapkan blocking pad (idealnya), kalau tidak ada bisa memakai metoda tradisional yaitu siapkan alas plastik kemudian beri styrofoam dan alas handuk, lalu taruh doilies yang lembab itu diatasnya. 5. Doiliesnya mulai dirapikan bentuk dan ukurannya sesuai dengan kehendak ataupun petunjuk ukuran dari pola. 6. Satu persatu titik-titik ujung doilies diberi jarum anti karat (T-pin); maksudnya untuk mempertahankan bentuknya sampai ia kering. 7. Setelah selesai, biarkan selama 2-4 hari hingga kering dengan sendirinya. 8. Bila sudah kering niscaya doiliesnya akan menjadi mulus dan rata. Teknik ini boleh digunakan untuk crochet ataupun knitting, dan harap memperhatikan label benangnya agar hasil sesuai yang diinginkan. Selamat mencoba | | | | |  | |  |  |